Wednesday, March 15, 2017

Tentang perjalananku menemukan jodoh

"Kalau memang terlihat rumit lupakanlah. Itu jelas bukan cinta sejati kita. Cinta sejati selalu sederhana. Pengorbanan yang sederhana, kesetiaan yang tidak menuntut apapun, dan keindahan yang apa adanya" - Tere Liye.

"Segala sesuatu yang ditakdirkan bersama, maka apapun yang mencegahnya, dia akan menemukan jalan untuk menyatu. Pun sebaliknya, sesuatu yang tidak ditakdirkan bersama, maka apapun yang kita lakukan, dia tidak akan pernah menyatu" - Tere Liye.

Dulu jaman-jaman sebelum nikah (padahal udah pengen nikah), sering sekali membaca tulisannya Tere liye, menurut saya tulisan-tulisannya seringkali bisa memadamkan kegalauan hati waktu itu. Sejujurnya saya setuju sekali dengan quotes Tere Liye yang saya kutip di atas, bahwa cinta sejati selalu sederhana. Sedikit bercerita, dulu saya pertama kali bertemu dengan suami adalah pada pertengahan tahun 2013. Waktu itu saya diajak seorang teman untuk jalan-jalan ke taman wisata mangrove Surabaya beramai-ramai, dan kebetulan teman saya juga mengajak suami saya yang kebetulan adalah temannya juga. Waktu jalan-jalan seharian itu biasa saja sebenarnya, kami (saya dan suami) hampir tidak mengobrol sama sekali, mungkin cuma sekali-sekali saja saya minta difotoin karena waktu itu dia satu-satunya yang membawa kamera. Setelah jalan-jalan sehari itu kami tidak ada hubungan komunikasi sama sekali, hingga pada awal tahun 2014, waktu itu saya berencana mau melamar kerja di perusahaan yang mirip-mirip dengan tempat suami saya bekerja. Karena belum pernah punya pengalaman melamar pekerjaan sebelumnya, oleh teman saya yang juga temannya suami, saya disarankan untuk tanya-tanya ke dia. Bahkan waktu itu yang menginvite-kan bbmnya adalah teman saya karena saya menolak untuk menginvite dengan alasan malu dan 'sungkan'. Syukurlah setelah invite-an bbm saya diterima, suami langsung menyapa duluan, karena semisal waktu itu dia tidak menyapa mungkin saya juga tidak akan pernah nge-bbm dia. 

Singkat cerita, setelah sering bbm-an yang awalnya hanya tanya-tanya seputar job hunting, akhirnya lama-lama kami menjadi cukup dekat untuk keluar (berdua) bareng, atau sekedar makan dan ngobrol singkat saat dia ada pekerjaan ke Malang. Setahun kemudian, di akhir bulan Maret 2015, akhirnya dia mengatakan bahwa dia ingin menjalin hubungan yang lebih serius. Bulan Aprilnya dia minta ijin main ke rumah untuk bertemu dengan kedua orang tua saya, yang mana waktu itu dalam pikiran kami belum ada rencana untuk menikah dalam waktu dekat. Tapi semuanya berubah saat tiba-tiba saya menerima email yang menyatakan bahwa saya diterima beasiswa MEXT untuk studi S3 di Jepang selama 3 tahun. Saya ingat sekali, waktu itu saya langsung mengirim screenshot email pemberitahuannya ke dia, dan jawabannya kurang lebih adalah "Bismillah, berarti ini yang terbaik. InsyaAllah kita bisa melaluinya". 

Bulan Mei-nya saya iseng pengen main ke rumahnya, dan setelah itu di Bulan Juni keluarganya 'main' ke rumah saya sekalian menentukan tanggal pernikahan. Setelah diskusi dengan mempertimbangkan jadwal keberangkatan saya ke Jepang bulan September, akhirnya diputuskan kami akan menikah 2 bulan kemudian di bulan Agustus. Kebayang bagaimana hectic-nya kami waktu menyiapkan semuanya dalam waktu hanya 2 bulan, sedangkan posisinya kami waktu itu LDR berbeda kota? Kami tidak sempat foto prewed, beli segala pernak pernik seserahan hanya dalam waktu sehari, bahkan beli cincin pun langsung beli di toko tanpa pesan terlebih dahulu (makanya cincinnya sampai sekarang masih kebesaran, dan akhirnya saya pakai di jari tengah πŸ˜‚). Terlepas dari semua itu, toh akhirnya kami menikah dengan sukses walaupun semua persiapannya serba mepet dan dadakan. Alhamdulillah...

Jadi benar kan kata-kata-nya bang Tere Liye di atas? 

"If something is destined for you, never in million years it will be for somebody else - Jika sesuatu ditakdirkan untukmu, sampai kapanpun tidak akan pernah menjadi milik orang lain".

Jadi untuk yang sampai sekarang belum menemukan jodohnya, tidak perlu galau, jodoh pasti akan datang di saat yang tepat, di waktu yang terbaik menurut-Nya. Itu janji Allah loh, masa masih ragu?
Atau coba dilihat-lihat lagi di sekitarnya, siapa tau sebenarnya jodoh kalian sudah ada di dekat-dekat kalian, hanya saja kalian belum menyadarinya karena terlalu sibuk memperhatikan yang jauh-jauh. Hehehe..

Sekian, selamat sore menjelang malam di negara bagian Kanazawa :)

Monday, March 13, 2017

Two days in Kyoto

Kyoto merupakan kota yang pernah menjadi ibu kota negara Jepang selama lebih dari 1000 tahun. Kota ini adalah capital city dari prefektur Kyoto yang berada di region Kansai. Karena pernah menjadi ibu kota Jepang sekian lamanya, tidak heran kalau kota ini menjadi representatif kebudayaan Jepang untuk turis mancanegara. Banyak sekali tempat wisata di kota ini, yang sebagian besar merupakan kuil dan shrine. Jadi ini adalah kunjungan keduaku di Kyoto, setelah tahun lalu pernah ke Kyoto juga untuk ikut conference dan nyuri-nyuri jalan-jalan sehari. Karena waktu itu belum puas, kali ini aku dan suami memutuskan untuk jalan-jalan di Kyoto lagi. Kami di Kyoto cuma dua hari satu malam, dan selama 2 hari tersebut kami mengunjungi 5 destinasi wisata di Kyoto, apa saja? Here we go..

1. Kitano tenmangu shrine
Awalnya shrine ini tidak ada di itinerary perjalanan kami. Keinginan untuk datang ke shrine ini adalah ketika aku iseng-iseng googling lokasi mana di Kyoto yang terkenal dengan bunga ume (plum blossom) nya. Kebetulan sekali ternyata di shrine ini tiap tanggal 25 Februari setiap tahunnya selalu diadakan ume matsuri (plum blossom festival). Di shrine ini ada ratusan (apa ribuan ya?) pohon bunga ume yang mekar. Jadi waktu festival ini, selain bisa menikmati bunga ume yang sedang bermekaran, ada juga tea ceremony yang disajikan oleh para geisha untuk pengunjung. Selain itu, pada saat festival ini dibuka juga flea market, yaitu pasar barang-barang murah yang apa saja dijual disana. Mulai dari kamera, barang-barang antik, pakaian, hingga makanan. Kemarin aku sempet beli kimono yang menurutku cukup bagus dan harganya cuma ¥800 (Rp 90.000) saja. Kuil ini menjadi lokasi pertama yang kami kunjungi karena lokasinya dekat dengan hotel tempat kami menginap.






2. Kinkaku-ji temple
Kuil ini terkenal juga dengan nama kuil emas (金; kin/kana; emas). Katanya, warna ke emasan dari dinding kuil ini adalah karena dindingnya dilapisi emas asli (plis jangan tanya emas yang dipake ngelapisin itu berapa karat). Awalnya bangunan ini adalah sebuah vila, yang kemudian pada tahun 1397 dibeli oleh Shogun Ashikaga Yoshimitsu dan kemudian diubah menjadi komplek Kinkaku-ji. Pada tahun 1467-1477 semua bangunan pada komplek tersebut terbakar pada saat terjadi perang kecuali paviliun utama nya, yang mana kemudian paviliun ini pada tahun 1950 juga akhirnya dibakar oleh seorang biksu yang berniat untuk bunuh diri. Bangunan yang ada sekarang merupakan bangunan yang baru dibuat mulai tahun 1955 - 2003. Untuk masuk ke kuil ini admission fee nya adalah ¥400 (Rp 45.000). Oiya, selama di Kyoto ini aku dan suami sebagian besar mobile dengan bus yang aksesnya memang gampang sekali, apalagi ada tiket one-day pass seharga ¥500 yang bisa digunakan untuk menjangkau hampir semua tempat-tempat wisata di Kyoto.




3. Gion
Kami ke Gion setelah makan malam di sebuah resto India-Persia yang memang terkenal karena makanan halalnya. Resto ini cukup recommended karena masakannya yang lumayan dan harga yang terjangkau (kami habis kurang lebih ¥3.500/ Rp. 400rb). Nama restonya adalah Arash's kitchen, yang mana tiap sabtu malam mulai jam 19.00 ada pertunjukan belly dance πŸ˜‚. Setelah makan malam ini kami ke Gion yang merupakan distrik geisha yang memang bagus dikunjungi saat malam hari. Di sekitar Gion ini juga ada ramen halal namanya Narita-ya, yang bersebelahan dengan resto yakiniku halal dengan nama yang sama. Sayangnya kemarin kami tidak sempat makan di sini karena waktu datang ke sana tempatnya penuh, sedangkan kami tidak bisa menunggu karena mengejar waktu sebelum tempat penitipan koper di stasiun tutup (jam 8 malam). Bicara tentang ramen halal, di Kyoto ada resto ramen halal lain yang lokasinya dekat dengan stasiun Kyoto, namanya AYAM-ya. Perlu diingat dan dicatat bahwa resto ini tutup pada hari minggu, biar nanti tidak kecewa seperti kami yang kelupaan kalau resto ini tutup padahal sudah di rencanakan untuk makan ke sana. Aku sendiri sebenarnya sudah pernah makan di sana saat ke Kyoto tahun lalu, well.. untuk rasa sih lumayan, tapi bagiku indomie tetap juara.




4. Fushimi Inari Taisha
Pernah nonton film "Memoirs of a geisha"? Ingat waktu Chiyo kecil lari-lari di gate warna orange yang jejer-jejer setelah dibelikan es krim sama bapak chairman? Yup, itu lokasinya adalah di shrine ini. Fushimi inari ini lokasinya ada di Mt. Inari yang puncaknya adalah 233 meter di atas permukaan air laut. Untuk sampai di puncak ini ada 14 level, yang katanya bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Waktu itu kami tidak sampai puncak bukan karena tidak kuat, tapi karena diburu waktu karena sudah booking untuk makan siang di restauran yakiniku halal jam 1-nya. Jadi tori gate berwarna orange yang jumlahnya ribuan ini merupakan donasi dari perusahaan-perusahaan di Jepang, yang mengharapkan agar bisnisnya lancar dan sukses karena shrine ini sendiri dikenal sebagai shrine kemakmuran. Kalau kalian perhatikan di tiap tori gate ini ada tulisan berbahasa Jepang, yang merupakan nama dari perusahaan yang mendonasikan tori gate tersebut. Untuk ke shrine ini lebih baik naik kereta daripada naik bus. Kenapa? karena kalau naik kereta, stasiun tempat berhenti tempatnya tepat di depan shrine, sedangkan kalau naik bus jalannya masih agak jauh dari halte. Jadi kalau mau naik kereta dari stasiun Kyoto, naiknya adalah JR Nara line yang cuma 5 menit, karena stasiun Fushimi Inari ini lokasinya hanya 2 stasiun dari stasiun Kyoto.








5. Kiyomizu-dera
Kiyomizu-dera ini adalah kuil Budha yang menjadi salah satu UNESCO world heritage site, dan masuk dalam 20 besar finalis untuk menjadi tujuh keajaiban dunia. Nama kiyomizu itu sendiri artinya adalah air yang suci, karena di dalam komplek kuil ini ada semacam sumber mata air yang memang airnya bening (apasih). Saat ini banyak orang yang minum atau sekedar mencuci tangan dengan air ini dengan harapan bisa jadi pintar, tapi karena aku muslim, pengennya wudlu aja di air pancuran itu karena waktu itu memang sudah masuk waktu sholat. Tapi untungnya aku dipegangin suami dan diseret untuk wudlu di tempat lain karena takut didatangi security nya kuil, secara kalau mau ke pancurannya itu saja ngantrinya juga cukup panjang. Ada satu hal yang cukup bikin kecewa dari kuil ini, yaitu kebetulan banget waktu kami ke sana bangunan utamanya sedang di renovasi, jadilah keindahan Kiyomizu dera yang terkenal itu tidak bisa kami nikmati saat itu. Untuk masuk ke dalam kuil ini, admission fee nya adalah ¥ 400. Lokasi dari Kiyomizu-dera sendiri sebenarnya tidak terlalu jauh dari Fushimi Inari, dengan naik bus dari stasiun Kyoto. Dari halte untuk sampai ke kuilnya harus jalan sekitar 1km, dengan jalanan yang cukup menanjak. Tapi jangan khawatir, karena di sepanjang jalan ini dipenuhi orang berjualan makanan dan oleh-oleh, jadi perjalanan kalian tidak akan terasa sama sekali.








Oiya, sebelum ke sini kami sebelumnya makan di resto yakiniku yang menyediakan daging halal namanya "Nanzan-honten", yang lokasinya adalah di seberang Notre-dame University. FYI, di sini kalau mau pesan menu halal sebaiknya telp dulu di hari sebelumnya agar mereka bisa menyiapkan. Harganya agak mahal memang, kami waktu itu makan berdua habis kurang lebih ¥ 10.000 (Rp. 1,1jt).






Jadi itu adalah cerita perjalanan kami selama di Kyoto kemarin. Sebagai saran, kalau mau ke Kyoto sebaiknya waktunya cukup lama biar lebih puas dan tidak diburu-buru waktu. Kata seorang teman yang memang tinggal di Kyoto, sebenarnya highlight tempat wisata di Kyoto itu ada 4, yaitu Kinkaku-ji, Fushimi Inari taisha, Kiyomizu-dera, dan Arashiyama. Untuk arashiyama ini aku sempat datang ke sana tahun lalu, tapi di kesempatan kali ini tidak bisa ke sana karena waktu yang terbatas (dan karena suami tidak tertarik dengan alasan, ngapain jauh-jauh ke Jepang malah lihat hutan bambu πŸ˜…). Padahal arashiyama ini bagus loh, karena bambu di Jepang beda sama bambu di Indonesia, ada yang tau ngga beda nya apa? kalau ngga tau bisa di googling, hitung-hitung nambah wawasan tentang jenis-jenis bambu di dunia πŸ˜‚.

Cukup sekian, blog selanjutnya mungkin akan tentang perjalanan jalan-jalan ke Shirakawago-Takayama-Toyama, atau mungkin tentang kehidupan kuliah di Jepang. γ˜γ‚ƒ、またね。。
Makasih untuk yang sudah mampir..






Wednesday, February 15, 2017

Serba-Serbi Hidup di Jepang

Postingan ini dibuat karena request dari seorang teman, berdasarkan pengalaman gue selama 1,5 tahun tinggal di Jepang. Here we go..

1. Biaya kuliah di Jepang
Jadi, biaya ujian masuk dan tuition fee (SPP) di universitas-universitas negeri di seluruh Jepang itu sama. Untuk biaya ujian masuk S1 adalah sebesar ¥ 17.000 (sekitar Rp. 2jt), sedangkan untuk S2 dan S3 adalah sebesar ¥ 30.000 (Rp. 3,6jt). Untuk biaya SPP, kalau di Indonesia biasanya yang paling mahal adalah untuk jurusan kedokteran, tapi kalau di Jepang, biaya SPP paling mahal adalah untuk sekolah hukum. Untuk biaya SPP S1/S2/S3 biasa adalah sebesar ¥ 535.800/tahun (sekitar Rp. 64jt), sedangkan untuk sekolah hukum SPPnya adalah sebesar ¥ 804.000/tahun (sekitar Rp. 96jt). Selain biaya-biaya tersebut di atas, ada juga biaya yang disebut admission fee, yang mana biaya ini hanya dibayarkan sekali saja pada saat pertama kali mau masuk. Biaya admission fee ini jumlahnya sama mulai dari S1-S3 maupun untuk sekolah hukum, yaitu sebesar ¥ 282.000 (sekitar Rp. 34jt). Tapi  karena gue dapat beasiswa dari pemerintah Jepang, selama ini gue ngga pernah ngurusin masalah SPP atau biaya-biaya lainnya sama sekali, karena pihak pemberi beasiswa langsung membayarkan SPP ke universitas. Beda semisal beasiswanya dari pemerintah Indonesia, biasanya uang SPP atau lain-lainnya akan ditransfer ke rekening pribadi penerima beasiswa, kemudian penerima beasiswa membayarkan sendiri SPP-nya ke Universitas.

2. Biaya hidup di Jepang
Banyak yang bilang bahwa hidup di Jepang itu mahal. Tapi semisal kita mau berhemat, jumlah beasiswa yang didapatkan entah itu dari pemerintah Jepang atau pemerintah Indonesia pasti masih berlebih. 
     a. Apartemen, listrik, air, dan gas. 
Biaya ini bervariasi tergantung lokasi dan jenis apartemennya (single atau family). Untuk apartemen single di Kanazawa harganya berkisar antara ¥ 30-40rb, sedangkan apartemen family biasanya lebih mahal berkisar antara ¥ 45-60rb. Untuk apartemen gue yang berukuran single dan lokasinya cukup strategis walaupun agak jauh dari pusat kota, harganya adalah ¥ 37.500 yang mana harga ini udah termasuk pemakaian air sepuasnya. Gas yang dipakai di Jepang ada dua macam, yaitu gas propan dan gas kota (toshi), yang mana harga gas propan seringkali lebih mahal dibandingkan dengan gas toshi. Gas ini digunakan untuk pemanas air dan juga untuk memasak bagi yang masaknya dengan kompor gas. Untuk apartemen gue yang gas nya adalah gas toshi, untuk musim panas biasanya habis sekitar ¥1.500, dan kalau musim dingin habisnya jadi sekitar ¥3.500. Jangan tanya untuk propan, dengan pemakaian yang sama kayak gue, bayarnya mungkin bisa jadi sampai dua kali lipat. Nah untuk listrik, selama musim panas gue biasanya habis sekitar ¥ 2.500, sedangkan pas musim dingin habisnya bisa sampai ¥ 6.500 (karena pemanas ruangan hampir selalu nyala sepanjang malam).
     b. Asuransi kesehatan
Asuransi kesehatan di Jepang bisa mengcover 70 % dari total biaya yang seharusnya kita bayarkan setelah berobat. Bagi tiap orang, besarnya biaya asuransi beragam tergantung dari jumlah penghasilan. Untuk mahasiswa penerima beasiswa, kami dianggap tidak berpenghasilan sama sekali, sehingga asuransi pun jadi murah. Contohnya gue yang biaya asuransi per bulannya cuma sebesar ¥ 1.600. Bagi yang mempunyai keluarga di sini, biasanya asuransi dibayarkan langsung untuk satu keluarga sehingga bisa lebih murah dibandingkan kalau bayar sendiri-sendiri. Ada seorang teman yang dia di sini dengan suami, bayar asuransi untuk berdua adalah sebesar ¥ 2.800. Nah sedangkan untuk orang-orang asli Jepang yang memang mereka bekerja, mereka bayar asuransi nya bisa sampai ¥ 6.000 per bulan nya. Mahal..
     c. Telpon
Untuk sistem kontak telp di sini beda banget dengan di Indonesia yang bisa sesuka hati ganti nomer telp hanya dengan beli sim card harga 10rb an. Di Jepang, ada 3 provider besar yang paling laris di pasaran, yaitu AU, Docomo, sama Softbank. Karena gue di sini pakainya AU, di sini gue mau cerita sedikit terkait kontrak telp di provider AU. Jadi di sini untuk pemakaian telp ada dengan sistem kontrak (2 tahun), dan kalau mau putus kontrak sebelum masa kontrak habis biasanya kena denda kurang lebih sebesar ¥12.000. Dulu waktu gue pertama kali tiba di Jepang, waktu itu sedang ada promo dari AU untuk bisa dapat HP Iphone 6 baru GRATIS. Karena waktu itu HPnya gratis, gue bayar per bulannya hanya untuk biaya internet (7GB) dan telp sebesar ¥ 5.000 (+ ¥ 500 untuk apple care). Tapi di bulan November kemarin, gue upgrade kontrak dan ganti HP jadi Iphone 7+. Karena yang kali ini HPnya ngga gratis, jadi gue harus membayar untuk HPnya dengan metode dicicil sampai masa kontrak habis (2 tahun). Karena itulah sekarang tagihan telp per bulan gue jadi ¥ 8.500 yang di dalamnya udah include biaya untuk nyicil HPnya juga. 
     d. Makan
Sebagai orang muslim yang tinggal di negara non-muslim, kita harus lebih berhati-hati terkait semisal mau beli makan di luar. Selain karena orang Jepang biasa memakan pork, mereka juga sangat sering memasak dengan mencampurkan sake dan mirin (sake manis) ke dalam masakannya. Memasak sendiri memang menghabiskan waktu, tapi selain lebih aman, memasak sendiri juga bisa lebih menghemat biaya pengeluaran. Oiya, di sini banyak toko online yang menjual daging ayam, kambing, dan sapi halal, serta berbagai bumbu-bumbu dari Indonesia, jadi kalau ke supermarket di sini biasanya gue belinya cuma seafood, sayur, dan buah-buahan. Tempat gue biasanya belanja online yaitu di www.baticrom.com (COD) atau di toko-indonesia.org (transfer). Untuk biaya masak dan makan per bulan biasanya gue habis kurang lebih sekitar ¥20.000.

Nah itu adalah daftar pengeluaran primer yang harus dibayarkan per bulannya. Untuk pengeluaran sekunder seperti shopping dan jalan-jalan itu udah tergantung masing-masing individunya ya..

3. Part-time job (arubaito) di Jepang
Bagi kalian yang berencana pengen kuliah sambil kerja part-time, disarankan untuk bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang minimal untuk daily conversation, karena kalau kalian menguasai bahasa Jepang, pilihan part-time pun bisa lebih banyak dan bervariasi. Tapi bagi kalian yang tidak menguasai bahasa Jepang, jangan khawatir, kalian juga tetap bisa bekerja part-time kok.  Pilihan tempat part-time job bisa di restauran, kantin kampus, laundry, hotel, dan juga bisa dengan nganterin koran. Untuk bayaran dari kerja part-time ini dihitung per jam kerja, yang nominalnya beragam mulai dari ¥ 800 hingga ¥ 1.400 per jam.

4. Musim-musim di Jepang
Mungkin kalian semua udah pada tau kalau Jepang adalah negara sub-tropis dengan 4 musim. Dan asal kalian tau, musim-musim di Jepang punya keindahan dan pesona nya masing-masing. Di mulai dengan musim gugur (aki), Jepang terkenal dengan daun-daun momiji nya yang akan berubah warna jadi merah saat musim gugur. Ngga cuma momiji, daun-daun maple juga semua akan berubah warna jadi merah atau orange, cantik banget pokoknya, tapi sayangnya puncak keindahan musim ini hanya bertahan sekitar 1 bulan, dan setelah itu daun-daunnya akan mulai rontok. Setelah musim gugur, tibalah musim dingin (fuyu) yang identik dengan salju. Gue ini kebetulan beruntung banget tinggal di Kanazawa yang daerahnya memang bersalju saat musim dingin tiba. Jangan kira semua daerah Jepang saljunya bakalan sama tebalnya saat musim dingin. Tokyo yang merupakan ibu kota Jepang juga jarang banget turun salju, dan hampir ngga pernah yang saljunya sampai numpuk tebal di tanah. Kalau kalian pengen ke tempat yang musim dinginnya lama dan saljunya sangat tebal, datang aja ke Hokkaido, di sana bahkan saat bulan Februari selalu di adakan snow festival terbesar di Jepang. Setelah cuaca mulai menghangat, datanglah musim semi (haru). Musim ini memang paling identik dengan bunga sakura (cherry blossom), yang mana full bloom sakura ini biasanya cuma 2 minggu saja (akhir maret hingga pertengahan April). Jadi urut-urutan bunga yang mekar di musim semi itu gini: bunga plum (ume), sakura, tulip dan canola, azalea, dan ditutup dengan hydrangea (yang merupakan bunga pertanda musim panas akan segera datang). Lalu untuk musim panas (natsu), sebenarnya dari segi keindahan alam menurut gue ngga ada yang istimewa, tapi di musim panas ini banyak sekali di adakan berbagai jenis festival. Untuk terkait festival-festival di Jepang bisa dibaca di point 5.


















5. Festival-festival di Jepang
Di sini gue ngga akan nge-list semua festival (matsuri) yang ada di Jepang, karena jumlahnya yang banyak banyak banyak banget. Gue mungkin cuma nyebutin festival-festival besarnya saja, antara lain Gion matsuri (Kyoto), Kanda matsuri (Tokyo), Yuki matsuri (Sapporo), Awa odori (Tokushima), dan Tenjin matsuri (Osaka). Sebagian besar festival di Jepang biasanya diadakan pada saat musim panas (kecuali yuki matsuri), yang mana pada saat musim panas ini juga ada satu festival yang paling gue tunggu, yaitu hanabi matsuri (fireworks festival). Di fireworks festival ini biasanya orang-orang akan pergi dengan memakai setelan yukata (kimono musim panas), yang mana waktu pertama gue lihat dulu gue takjub ngelihat orang sebanyak itu pakai yukata. Di Jepang, jangan harap ada yang nyalain kembang api waktu malam tahun baru. Selain karena alasan winter, pada saat malam tahun baru orang-orang Jepang akan pergi ke kuil untuk berdoa.  




Itu adalah garis besar tentang kehidupan di Jepang. Kalau mau tau lebih detail, yuk datang dan kuliah di sini.. ;)












Saturday, February 11, 2017

Paris in One Page

Holaaa.....

Di postingan pertama, gue bilang kalau pernah ke Jerman untuk student exchange. Nah waktu itu mumpung lagi di Eropa dan visa gue adalah visa schengen (visa yang membolehkan untuk masuk ke semua negara di Eropa kecuali UK), akhirnya gue nyempetin untuk melipir ke Paris. Waktu itu gue di Paris selama 4 hari 3 malam, rencana 5 hari 4 malam batal gara-gara gue ketinggalan kereta dari Frankfurt main Hbf (stasiun kereta utama di Frankfurt) menuju ke Paris. Jadi tentang drama ketinggalan kereta itu ceritanya gini..

Waktu itu gue udah ngerencanain buat jalan2 ke Paris jauh-jauh hari bareng sama salah seorang temen orang Jerman namanya Johanna. Kami udah beli tiket kereta jauh2 hari karena waktu itu bisa dapat harga lebih murah, pulang pergi Jerman - Paris cuma sekitar 85 euro (Rp. 1,2jt). Johanna ini tinggalnya di kota Kassel, satu jam perjalanan naik mobil dari kota tempat gue tinggal. Nah karena tinggal di kota berbeda, akhirnya kami sepakat langsung ketemuan di Frankfurt main Hbf. Dia ke Frankfurt naik kereta, dan gue mau naik bus karena harganya jauuhh lebih murah. Tiket kereta dari kota gue ke Frankfurt sekitar 65 euro, sedangkan kalau naik bus cuma 10 euro. Gue beli tiket busnya di jam yang diprediksikan bakal sampai di Frankfurt 1 jam sebelum kereta gue berangkat, tapi apesnya si bus entah karena apa datangnya telat hampir se jam juga. Jadilah akhirnya gue nyampe di Frankfurt 10 menit setelah kereta dan teman gue berangkat ke Paris. Panik, akhirnya gue pergi ke tempat jualan tiket kereta untuk beli tiket tercepat menuju Paris. Tapi ternyataa, kereta berikutnya yang akan berangkat ke Paris adalah besoknya jam 6 pagi, padahal waktu itu masih jam 7 malam. Karena ngga mungkin untuk balik lagi ke Gottingen, akhirnya gue mutusin untuk nginep di stasiun.  Oiya, tiket kereta baru yang gue beli untuk berangkat ke Paris harganya 80 euro, hampir sama dengan harga tiket PP yang gue beli sebelumnya.

Si Johanna panik pas gue bilang mau nginep di stasiun, dan mau nyari hotel di sekitar stasiun pun ngga ngerti adanya dimana. Akhirnya dari jam 7-9 malam gue nongkrong di tempat jualan tiket (karena suhu di luar waktu itu 3 derajat). Jam 9 malam karena tempat jualan tiket mau tutup, gue pindah tempat bengong ke McD dan sekalian beli makan malam. Waktu di McD ini agak horor gara-gara ada mas-mas yang awalnya duduk di seberang gue, lama lama duduknya pindah ngedeketin gue, terus waktu dia berusaha ngajakin gue ngobrol (sekitar jam 12 malam), gue langsung berdiri beli kopi dan pindah tempat duduk. Di McD ini cuma bisa sampe jam 4 karena mereka mau tutup, terus akhirnya gue duduk-duduk di kursi di depan toko kopi dan sandwich yang masih buka. Gue sengaja nongkrong di situ karena di stasiun udah sepi, hanya beberapa orang aja yang masih mondar-mandir, kan serem. Karena ngga enak kalau cuma nongkrong aja, akhirnya gue beli kopi (lagi) sambil nungguin kereta datang. Jam 5.30 kereta yang menuju ke Paris datang, dan gue langsung masuk karena di luar udaranya dingin banget. Perjalanan dari Frankfurt menuju ke Paris memakan waktu 4 jam, dan gue yang biasanya gampang banget ketiduran, kali ini ngga bisa tidur padahal semalaman ngga tidur, mungkin gara2 kebanyakan minum kopi.

Sesampainya di Paris, temen gue udah nungguin di stasiun, udah cantik dan wangi. Gue sama si temen ini rencana nginepnya di apartemen temennya temen gue yang memang orang Paris, biar bisa menghemat biaya pengeluaran hotel. Nah, entah dulu itu gimana ceritanya, pokoknya gue ngga bisa ke apartemen untuk naruh barang bawaan sekaligus mandi dan bersih-bersih. Jadilah gue jalan-jalan keliling Paris dengan masih bawa tas baju dengan muka super jelek karena ngga mandi dan ngga tidur semalaman. Hari pertama itu gue jalan-jalan ke Arc de Triomphe dan belanja di sepanjang jalan Avenue des Champs Elysees. Selain itu gue juga pergi ke salah satu katedral paling terkenal di Paris, Notre Dame. Awalnya gue ragu masuk apa nggak, tapi karena penasaran gimana di dalam katedralnya, akhirnya gue mutusin untuk masuk ke dalam. Dan saat di dalam katedralnya, ternyata gue satu-satunya manusia berjilbab di sana πŸ˜…. Jalan-jalan sampai jam 4 sore, setelah itu baru kami pulang ke apartemen temennya temen gue. Thats it for the day one.






Lalu hari kedua kami pergi ke Musee du Louvre (ini museum yang ada di film "The Da Vinci Code" dan tempat dimana lukisan Monalisa dipamerin). Untuk masuk ke dalam museum ini tiket masuknya 12 euro, tapi gratis untuk teman gue yang orang Jerman. Kenapa? Karena museum-museum di sini itu semua tiket masuknya gratis bagi seluruh pelajar di negara European Union. Jadi kalau kalian nanti jadi mahasiswa di salah satu negara European Union, kalian juga bakalan bisa masuk ke museum-museum ini gratis. Well, Musee du Louvre itu ternyata besaar banget, mungkin untuk muterin seluruh bagian museumnya perlu waktu seharian, dan karena waktu gue terbatas gara-gara pengen cepet-cepet ke Eiffel tower, akhirnya gue cuma ngunjungin 1/3 bagian dari museum dan langsung pamitan sama mbak Monalisa. 






Untuk mobile selama di Paris ini gue beli tiket kereta bawah tanah untuk 3 hari dengan harga 26 euro.   Jadi kemana-mana gue naik kereta bawah tanah ini, yang selain karena harganya lebih murah, juga untuk menghindari jalanan padat di kota Paris. Waktu udah sampai di Eiffel tower dan puas foto-foto di sana, gue sama Johanna berniat pengen naik ke puncak Eiffel tower. Gue lupa biaya untuk naik ke puncak Eiffel tower dulu berapa, karena gue ngga jadi naik gara-gara antriannya yang panjang banget. Hari kedua kami cuma sampai di situ aja, dan malamnya kami keluar makan bareng. Oiya, harga makanan di Paris hampir 2x lipat harga makanan di Gottingen, Jerman. Kalau di Gottingen gue beli pizza harga 6 euro, di Paris harganya jadi sekitar 12 euro. 





Lalu untuk hari ketiga, pagi-pagi kami berlima rencana mau pergi ke Catacombs, yang mana itu adalah pemakaman bawah tanah yang menyimpan kurang lebih 6 juta jenazah manusia. Catacombs ini awalnya adalah tempat penggalian tambang batu di Paris, yang kemudian dijadikan pemakaman karena semakin sempitnya lahan pemakaman di permukaan tanah. Waktu itu kami udah ngantri kurang lebih setengah jam, dan antrian tidak bergeser sedikit pun, padahal antrian di depan kami udah panjang banget. Karena itulah, kami akhirnya batal masuk ke Catacombs. Sebagai pelampiasan, gue sama Johanna akhirnya pergi ke pemakaman terbesar di Paris, dan jalan-jalan di dalam pemakaman kurang lebih selama 2 jam. Di dalam pemakaman ini banyak dikuburkan artis dan orang-orang terkanal di Paris, bahkan karena saking besarnya pemakaman ini, sampe ada peta tentang blok-blok pemakaman, dan siapa-siapa saja orang terkenal yang dimakamkan di blok tersebut. Setelah itu kami pergi ke Pont des Arts, itu loh, jembatan di atas sungai Seine yang ada banyak gemboknya. Konon katanya, kalau kalian nulis nama kalian dan pasangan di gembok, terus gemboknya dikunci di jembatan ini dan kuncinya dibuang ke sungai Seine, cinta kalian dengan pasangan akan abadi  selamanyaaa (ciyeehh). Tapi gue ngga masang gembok apa-apa di sana, karena waktu itu gue lagi jomblo (curcol) πŸ™ˆ. Setelah dari sana kami pergi ke Eiffel tower lagi untuk ngelihat light up nya. Kereenn bangettt. Sayang waktu itu belum jaman live instagram atau facebook πŸ˜†.





Nah untuk hari yang ke empat ini, kami pergi ke Montmartre. Kalau kalian pernah nonton Line short movie yang judulnya "Nic & Mar", kalian pasti akan tahu tempat ini. Jadi itu adalah gereja yang ada di dataran tinggi Paris, yang disekitarnya banyak seniman yang memamerkan hasil karyanya. Kalian juga bisa minta dilukis wajah kalian oleh para seniman itu, tapi ngga gratis. Untuk menuju ke Montmartre ini dibutuhkan sedikit efforts lebih, karena jalan dari stasiun terakhir menuju ke sini cukup jauh dengan jalanan yang menanjak. Tapi itu worth it banget, karena dari sini kalian bisa lihat view kota Paris kayak dari atas bukit. Kami di sini sampai menjelang sunset, terus balik ke apartment buat packing dan istirahat karena besok paginya kami harus balik ke Jerman pagi-pagi banget.








Sebenarnya selain tempat-tempat yang gue tulis di sini, gue juga pergi ke beberapa tempat lain yang mungkin kalian ngga pernah dengar karena memang ngga terlalu terkenal, misalnya Bibliotheque Francois Mitterand (cabang utama dari perpustakaan nasional Paris), Pantheon, Grand Arche of La Defense, dan beberapa tempat lain lagi yang bahkan gue udah ngga inget namanya apa. It's true that Paris is always a good idea. Paris itu memang tempat yang sangat indah untuk dikunjungi, tapi buat gue, Paris tidak nyaman untuk dijadikan tempat tinggal dalam jangka waktu lama. Gue masih bakal lebih milih untuk tinggal di Jerman atau di Jepang, dan sekali-kali aja pergi ke Paris untuk jalan-jalan (maunya). Anyway, thank you for the memories, Paris. You will always be missed.